PERBUDAKAN SANTRI

PERBUDAKAN SANTRI

Pagi-pagi sekali. Orang-orang masih anteng bersama mimpi-mimpinya, saya sudah harus bangun mempersiapkan sarapan. Membuat adonan roti. Memanggangnya. Meramu Fūl dan ‘Adas serta memasaknya. Mempersiapkan teh panas. Semuanya untuk tiga puluh porsi manusia dewasa.

Empat dari lima juru masak pamit pulang malam tadi. Tinggal satu. Mamduh. Dan kebetulan ia tidak memiliki dua telapak tangan. Rupanya, Mamduh memang bukan yang memasak. Ia hanya menunjuk-nunjuk.

Lumayan, saya kemudian belajar darinya cara memasak masakan yang serba nggak jelas itu.
Sebentar lagi fajar sadik terbit.

Saya sudah menyulap diri sebagai pelantun azan. Dua puluh lima menit kemudian yang berikamat, lalu menjadi imam.

Dari tiga puluh santri, hanya lima kepala yang ikut berjamaah. Wallahu A’lam. Bakdanya, saya membersihkan dapur, mengepel masjid, dan menyapu seluruh halaman yang berada di dalam lingkaran pagar tanaman.

Siang, saya memasak nasi, ayam goreng, dan sayur. Saya sempat beradu mulut dengan Mamduh soal cara masak dan penentuan sayurnya. Saya merasa lebih pengalaman darinya. Saya sudah hafal masakan orang Mesir bagaimana. Hambar.

Malamnya, Mamduh sudah tidak ada. Saya sendirian. Untung, malam tidak terlalu sulit. Saya cukup menyiapkan sisa roti pagi setelah memanaskannya kembali. Meramu selai. Dan menyeduh teh manis.

Lalu tidur. Bangun awal. Dan kali ini saya merasa ada yang salah. Ini tidak benar. 
Saya jauh-jauh dari Indonesia ke Mesir bukan untuk diperbudak. Saya berniat untuk belajar. Saya tidak percaya keberkahan itu masih ada.

Bukti sudah terpampang demikian gamblang. Santri-santri senior saya yang pernah menjadi abdi ndalem di pondok dulu, yang tidak pernah ikut ngaji karena menghabiskan waktunya untuk “membantu” kiai, tidak pintar juga, dan tidak ada tanda-tanda keberkahan. Di kampung halamannya bahkan mereka beraroma sampah masyarakat.

Mereka adalah korban cerita-cerita fiktif tentang keberkahan ngabdi kiai. Atau korban kisah nyata wali yang sudah sangat tidak relevan di zaman ini.

Bagi saya, ilmu itu dipelajari. Dengan ngaji atau membaca buku. Bukan dengan minum sisa kiai, menata sandalnya, atau ngangon wedusnya.

Dan rasa-rasanya, saya akan menjadi korban berikutnya. Korban santri yang diperbudak kiainya. Kalau “membantu” untuk sekadar mendapat makan karena tidak mampu membayar, mungkin itu sudah wajar.

Tapi kalau semua waktu saya sudah tersita, serta hak-hak saya sebagai pelajar sudah terampas, ini tidak benar. Sama sekali tidak benar. Saya harus menyudahi.

Saya pastikan ini adalah hari perbudakan terakhir. Saya bahkan tidak akan mempersiapkan sarapan pagi ini. Sebagai bentuk perlawanan atas perbudakan pada santri. Saya cukup ngimami Subuh, lalu pamit boyong.

Belum ada Komentar untuk "PERBUDAKAN SANTRI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel